Masho no Otoko o Mezashimasu - Chapter 4 Bahasa Indonesia



Chapter 4 - Makan 

Setelah selesai memeriksa pakaianku, aku menemukan buku yang menarik perhatianku ketika aku melihat rak buku. Membaca judul bukunya...

“Manga kisah masa lampau”

Aku tidak ingat sejak kapan buku itu ada di situ, aku pun belum pernah membacanya. Kukira aku mendapatkannya semasih aku kecil dan menaruhnya di rak tanpa membacanya. 

Kuambil buku itu dan duduk di sofa kamar lalu membukanya, hanya melihat gambar tokoh-tokoh sejarah yang digambar secara komikal. 

Ketika aku membacanya lebih lanjut, tampaknya laki-laki pada zaman dahulu dijunjung sebagai utusan dewa atau bahkan dewa itu sendiri karena kelangkaan yang berasal dari populasi mereka yang kecil dan fakta bahwa mereka menganugerahi keturunan kepada kaum perempuan. Seiring perkembangan zaman, mereka mulai memainkan peran seperti Miko yang melayani para dewa, juga terlibat dalam ritual dan ramalan.

Suatu ketika pada zaman peperangan, ratu suatu bangsa besar pernah menginvasi sebuah negara demi mendapatkan seorang pria dan semuanya berjalan mulus kala itu, ia berada di ambang mendapatkannya tatkala pria itu menghadap ke pasukannya, yang sedang siaga di sekitar ratu, dan berkata, 

“Bunuh dia!”

Chapter berikutnya berlanjut, ia mengarahkan jarinya ke arah sang ratu dan memerintahkan mereka untuk membunuhnya, semua pasukan di sekitarnya segera menghunuskan pedang mereka dan tanpa ragu menebas ratu.

....pada chapter inilah yang menunjukkan kebesaran otoritas laki-laki pada zaman dahulu, bahkan sampai-sampai mampu membuat berkurangnya kesetiaan mereka terhadap raja mereka sendiri sungguh mencengangkan!

Tapi aku juga memutuskan untuk bertujuan menjadi pria yang bisa mengendalikan wanita seperti ini.

Tujuannya adalah agar aku bisa menjalani kehidupan yang lebih baik, dan untuk melakukan itu, aku harus membuat beberapa wanita jatuh cinta kepadaku, yang wajahnya cantik, yang kaya, yang punya karakter baik, dan mau membayarku, dan itu penting. Selain itu, ini yang terakhir! YANG TERAKHIR! Kuncinya adalah aku harus membuat mereka mau menunjangku tanpa paksaan.......

 ……
 …………
............... Mungkin ini terlalu berlebihan? 

Nggak juga! Untuk menjadi cowok seperti itu, sebagai gantinya aku juga harus menjadi seseorang yang bisa mereka banggakan. Menjadi pria langka yang baik pada wanita di dunia yang keras bagi mereka. Seorang wanita harus bahagia karena ia bisa berkencan dengan pria baik yang sangat langka jumlahnya.

Itulah yang kusebut! Situasi WIN・WIN. Mungkin, mungkin saja ... Boleh kuanggap begitu.

Ketika aku memikirkan hal ini, aku mendengar suara ibu dari bawah. Tampaknya, mie soba telah tiba.


Berdiri dari sofa, aku mematikan lampu kamar dan turun.


Meja di ruang tamu dilapisi dengan makanan yang kami pesan, dan baunya enak.

“Ah, kemari, mari makan.”

“Un, kelihatannya enak nih.”

“Ya, ini populer karena kelezatannya. Bahkan poin di Gourmeter juga tinggi.”

Gourmeter adalah situs web tempat orang-orang yang pergi makan di restoran memberikan skor mereka sendiri.

“Baiklah, kalau begitu, itadakimasu.”

Itadakimasu.”

Pertama, kami meletakkan sumpit kami ke mangkuk, yaitu semangkuk nasi yang penuh dengan beberapa jenis sayuran, shrimp kisses (TL: ngga tahu padanan tepatnya gimana. Masa sih ciuman udang? Jadi saya ngikut aja) , cumi-cumi, belut conger, tempura telur serta bahan-bahan biasa lainnya. Ketika aku memasukkan lapis udang ke dalam mulutku, suara krenyas-krenyes keluar dari adonan yang kukunyah dan merasakan banyak udang di dalamnya. Kuning telur tebal tumpah ketika ku memecahkan putih telurnya. Bersama nasi, kata-kata saja sulit untuk menggambarkan bagaimana rasanya ketika kumasukan ke dalam mulutku. 

Boleh juga, restoran ini! Sementara kami tenggelam dalam rasa kelezatan, giliran kami mengarahkan sumpit ke soba. Ini juga tidak kalah lezatnya terutama supnya.

“Fufu~”

Saat aku terus menikmati makanan, ibuku, yang duduk di depanku, menatapku dan tersenyum.

“Em, bagaimana rasanya?”

“Uun, aku merasa sangat senang bisa makan bersama seperti ini. Padahal dulu aku benci makan bersama ...”

Kalau dipikir-pikir, cara bicaraku dulu agak kasar dan kami jarang bersama seperti saat ini ... Ya begitulah, sebut saja ini sebagai kenakalan remaja.

...mari kita renungkan ini.

“Maaf, ibu, ayo kita makan bersama lagi sesering mungkin mulai sekarang ya.”

“Aku sangat senang. Baik, nanti ibu usahakan bisa pulang cepat.”

“Baiklah, nantikan belajar memasaknya dan buat makanan yang enak.”

“Aku jadi nggak sabar.”

Lalu ibuku tersenyum. Tapi kemudian wajahnya memudar pada kata-kataku selanjutnya.

“Untuk melakukan itu, ibu harus menyingkirkan semua bir untuk membebaskan ruang di lemari es.”

“Huee! I-ibu rasa itu enggak usah, kalau kamu mau, nanti ibu belikan yang baru deh....” 

Aku terkekeh mendengar kata-kata ibu dan bilang kalau itu cuma bercanda.

“Baiklah! Ibu bisa menghabiskan semua itu dalam tiga hari.”

“Bir, paling banyak, boleh diminum tiga teguk sehari, dan aku ingin ibu tetap sehat dan berumur panjang.”

“Apa...?”

Ibu mendengar kata-kataku dan ekspresi putus asa muncul di wajahnya.

“Tapi, bisa dibilang alkohol adalah obat terbaik, dan boleh diminum terus!”

“Selama tidak minum terlalu banyak, itu tak mengapa.”

“Ku! Tapi kalau ibu tidak meminumnya, tangan ibu bisa gemetaran.....”

Dasar candu! Wanita ini (si jalang ini)! 

“Pokoknya, berhati-hatilah untuk tidak minum terlalu banyak.”

“Uu~.... Aku ngerti.” jawabnya sambil merengek. 

“Oh, omong-omong, akan ada pengurus rumah baru minggu depan.” katanya lagi. 

“Hee~ begitu. ”

Seingatku, pengurus sebelumnya sudah cukup tua.

“Amber-kun, cuma mengingatkan, kalau kamu diserang, kamu harus melawan dengan baik.”

“Eh, apa?”

“Aku mengkhawatirkanmu, karena kamu sangat imut, Amber-kun, ....Terkadang itu membuatku kepikiran.”

“Tidak apa-apa, karena dia akan bekerja di rumah dengan seorang laki-laki di dalamnya, jadi harusnya dia sudah lulus seleksi, kan?”

Di dunia ini, sebelum seorang wanita akan dipekerjakan di mana ia akan lebih sering memasuki ruang pribadi pria, perusahaan terlebih dahulu mengadakan proses penyeleksian ketat, dan negara telah menetapkan undang-undang yang mengharuskan mereka untuk memenuhi kriteria atau mereka tidak bisa dikirim ke pekerjaan.

“Iya, tapi... ” kata ibu, masih khawatir. 

Dengan kekhawatiran ini, makan pertamaku bersama ibuku berlalu sejak aku mendapatkan kembali ingatanku.