Masho no Otoko o Mezashimasu - Chapter 5 Bahasa Indonesia


Chapter 5 - Toko Roti

Pagi-pagi jam 5 lewat.

Aku melakukan senam sambil menikmati pemandangan sunrise yang indah.

Kuangkat kakiku ke dinding dan regangkan.

Alasan mengapa aku berolahraga pagi-pagi sekali bukanlah karena pengalamanku di kehidupan sebelumnya. Tapi, aku berpikir bahwa untuk menjadi cowok iblis, tubuh lentur dan kencang itu diperlukan, jadi kuputuskan untuk mulai lari-lari pagi hari ini.

Ngomong-ngomong, di kehidupanku sebelumnya, aku biasa bangun jam lima pagi dan berangkat kerja paling lambat jam tujuh pagi.

Merasa sedikit sedih, aku mulai berlari secepat mungkin. ....bagaimanapun aku tidak akan melupakan masa lalu.

“Huh, huh, huh.”

Beberapa saat kemudian, aku berhenti dan memeriksa jam. Sepertinya aku berlari selama dua puluh menit tapi aku tak terlalu lelah seperti yang aku kira, padahal aku jarang olahraga sebelumnya. Mungkin spesifikasi tubuh ini cukup tinggi.

...Apa-apaan cheat ini, kalau saja aku bertemu dengan tubuh ini sebagai orang asing, aku pasti akan membencinya pada pandangan pertama.

Tapi kalau itu aku, aku hanya akan merasa superior. Aku suka disebut "istimewa" dan "unggulan".

Sementara aku terus berlari dan menikmati pemandangan di sekitarku, aku bisa mencium aroma lezat roti yang baru dipanggang melayang di udara.

Aku menoleh sekitar dan melihat toko roti sudah dibuka.

Hal ini mengingatkanku pada isi kulkas di rumahku.

Hanya ada bir ... dan beberapa makanan ringan. ...Suka atau tidak, itu tak bisa kujadikan menu sarapan. Kulihat lagi toko roti itu. Aroma makanan yang sedap menusuk hidungku dan merangsang otakku. Kakiku pun secara alami melangkah ke sana.

Toko roti itu memiliki penampilan yang tenang dan berkelas. Ketika aku membuka pintu kayu, aku mendengar bel bergemerincing, menandakan kedatanganku. Begitu aku masuk, aroma lezat roti yang baru dipanggang membangkitkan nafsu makanku makin lebih.

Namun sayang, mungkin karena tokonya baru saja buka, variasi roti yang dibuat masih sedikit, yang hanya membuatku sedikit kecewa.

Yah tak apalah, seadanya saja, jadi ketika aku ingin membelinya, seorang pemilik toko keluar dari dapur, mungkin karena ia mendengar bel.

“Selamat datang, eh ... bagaimana bisa? Adakah yang bisa saya bantu?”

Mengapa dia malah bertanya begitu? Lihatlah! Aku seorang cowok yang datang untuk membeli roti sendiri.

Ketika benakku berpikir begitu,

“Maaf mengganggumu, tapi aku terpikat oleh bau yang enak dari tempat ini. Tokonya sudah buka, bukan?”

Tentu aku sudah tahu itu. Karena sudah pasti itu buka! Pertanyaanku ini adalah strategi untuk menjadi akrab dengan penjual dan menghubungkan percakapan.

Pemilik toko ini adalah wanita yang terlihat imut karena dia mengikat rambut abu-abunya di belakang punggungnya.

“Ah! Tentyu saja! Tidak, maaf, maksud saya, tentu saja!”

...aku bingung harus apa, karena aku merasa seperti dilecehkan secara seksual.

 ... abaikan saja.


“Baiklah, kalau begitu, aku akan mengambil roti panjang itu.”

Di toko pelecehan seksual, aku menyuruhnya mengambilkanku sepotong roti.

“Terima kasih! Apakah Anda ingin saya potongkan rotinya?

“Silahkan.”

Selagi menunggu rotinya sudah dipotong menjadi seukuran roti panggang, aku melihat ada selai di konter, dan labelnya bertuliskan itu buatan tangan, jadi aku putuskan untuk membelinya juga, dan saat aku melakukannya, ternyata ada dua varian rasa, stroberi dan blueberry tersedia, aku berpikir mana yang harus aku beli ketika si pemilik toko pelecehan seksual itu mendekatiku.

“Ano! Jika Anda mau, saya akan memberi Anda selai ekstra itu.”

“Eh, apa itu tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa, sebagai gantinya, maukah Anda ke sini lagi? Bahkan jika memungkinkan, meski ada begitu banyak orang ...”

“Oke, lain kali aku kembali untuk membeli sesuatu, aku akan datang sekitar siang atau malam hari ... tapi kenapa?”

“Yah~, hanya mengumumkan bahwa pelanggan pria akan datang ke toko ini adalah cara terbaik untuk beriklan.”

Menurut pemilik toko itu, biasanya pria tak akan datang untuk membeli makanan, dan menyuruh wanita pergi untuk membelikan mereka, tetapi jika seorang pria datang ke toko untuk membelinya sendiri, itu saja akan sangat menarik perhatian, tampaknya dia percaya diri dengan kualitas roti buatannya.

“Jika berhasil, perluasan rantai akan terlihat!” katanya, menjadi sangat bersemangat.

Setelah aku membeli sepotong roti, aku sangat ingin pulang, dan waktu itu sudah sekitar jam enam, aku harus mandi dan menyiapkan sarapan.

Baiklah, aku akan mencoba memanggang roti bakar....

“Baunya enak sekali~!”

“Aku sedang memanggangnya sekarang, kenapa ibu tidak bersiap-siap untuk bekerja?”

“Uh~, aku ngerti ~” katanya, dan aku menatapnya saat dia pergi ke kamarnya.

Setelah beberapa saat, seorang wanita karir yang menyegarkan datang dan aku memberikannya roti panggang.

“Aku punya selai stroberi dan blueberry.”

“Wah~, apa kamu bangun pagi-pagi untuk membelikannya untukku?”

“Aku kebetulan mencium bau enak saat aku lari pagi. ”

“Apa, sejak kapan kamu mulai lari pagi? Kenapa tiba-tiba begitu?”

“Yah, aku hanya ingin melatih fisikku. Jangan khawatir soal itu.”

“Hmmm, ok, aku akan menyalakan TV.” Kata ibu, lalu menyalakan TV.

『RUU untuk mempromosikan pernikahan dan poligami telah disahkan oleh Parlemen Nasional kemarin. Aturan baru tersebut akan mulai diumumkan dan diberlakukan pada tahun depan.』

Aku melihat berita yang menarik!