Masho no Otoko o Mezashimasu - Chapter 6 Bahasa Indonesia


Chapter 6 - Berangkat Sekolah


“Baiklah, aku berangkat dulu ya~”


“Un, hati-hati di jalan.”


“...Kamu tidak mau memberiku ciuman selamat tinggal?”


Pagi-pagi begini sudah mabuk lagi!? Dasar pecandu bir!


Setelah mengantar ibuku pergi, aku pun juga siap-siap berangkat ke sekolah sendiri.


Aku mengingat lagi berita yang barusan kulihat di televisi. 


“RUU Promosi Pernikahan dan Poligami”


Undang-undang ini agak kontroversial. Kenapa bisa dikatakan begitu, itu karena pendahulunya, "RUU Wajib Nikah". Awalnya, tak hanya di Aachenheim, tetapi di semua negara di dunia, poligami telah diperkenalkan. Tidak mengherankan, mengingat jumlah pria di dunia ini. Akan tetapi, dalam kenyataannya, tak banyak pria yang melaksanakan pernikahan poligami.


Hal ini tidak mudah diatasi karena masalah mendasar dari sikap pria terhadap wanita yang begitu mengakar lama, jadi pemerintah Aachenheim mencoba menggunakan paksaan secara hukum, untuk meningkatkan jumlah pasangan yang menikah.


Tingkat kelahiran yang rendah dan melonjaknya biaya memiliki anak dalam pertukaran uang menjadi latar belakang ini....


Tapi hasilnya, tak sedikit yang menentangnya baik pria maupun wanita yang mendukung mereka sehingga RUU tersebut dengan terpaksa dicabut kembali setelah disahkan. 


Pada mulanya, parlemen di Aachenheim mencoba mengesahkan RUU tersebut meskipun tahu akan ada banyak penentangan ... dari sinilah situasi yang tidak diduga-duga oleh siapapun terjadi.


Kau mungkin boleh menyebutnya kekuatan tekad pria di dunia ini... Terjadilah bunuh diri massal pria yang melanda di seluruh Aachenheim.


Mereka lebih memilih mati daripada dipaksa menikah! Begitulah kesimpulanku. 


Kejadian itu mengguncang negara Aachenheim. Bahkan sebagian masyarakat yang diam-diam setuju dengan RUU Wajib Nikah pun mulai menyalahkan pemerintah sekaligus. Itu adalah tragedi yang menyedihkan dari kelompok pria yang melakukan bunuh diri massal padahal populasi mereka semakin menyusut. Menanggapi kejadian luar biasa ini, pemerintah terpaksa mencabut RUU tersebut. Solusi terbaik berikutnya yaitu “RUU Promosi Pernikahan dan Poligami”.


Kondisinya sederhana, 


Jika kau menikah, pemerintah akan memberimu uang. Jika kau memiliki lebih banyak istri, pemerintah akan memberimu lebih banyak uang ....... begitulah hukum mengatakan.


Terus terang, mereka akan memberimu uang agar kau bisa menikah dan punya lebih banyak anak. Itu hukumnya.


Namun, kekuatan aksi pria di dunia ini bukan main, aku sedikit terkejut dengan mereka yang tak segan-segan melakukan bunuh diri massal.


Ini seharusnya menjadi kondisi yang cukup mudah sebab mereka tak harus hidup bersama walau mereka sudah menikah, tetapi ini masalahnya.

 


Aku mungkin akan sangat tidak menyukai gagasan menikahi wanita yang dipilih secara sewenang-wenang jika aku tidak memiliki ingatan kehidupan sebelumnya. Bahkan mungkin aku akan memiliki pemikiran yang sama dengan orang yang bunuh diri.


Aku bergidik membayangkannya, dan bersyukur telah mendapatkan ingatanku. Dengan memiliki ingatanku, hidup ini akan jauh lebih mudah ketimbang sebelumnya. 


Saat aku memikirkan hal ini, sudah hampir waktunya aku berangkat ke sekolah.


Lalu, aku kembali ke kamar dan melihat seragamku.


Itu rok. Ingatan kehidupanku sebelumnya yang aku syukuri tadi, kini telah membuatku merasa tak nyaman dengan seragam ini.


Tanpa rasa takut, aku mengambilnya dan berganti.


Ini sudah tak asing lagi, yah, wajar saja, karena ini adalah rok yang biasa aku pakai setiap hari ...


Setelah berganti pakaian, aku berdiri di depan cermin besar.


... Oh, sial! Terlihat cocok untukmu!


Dia ternyata memiliki wajah yang sangat cantik bila dibandingkan dengan para wanita, dan ternyata sangat imut bahkan dalam rok dan seragam blazernya.


Aku mulai terbiasa memakai rok seperti ini ... kataku, walau sedikit pusing.


Kulihat arloji-ku, dan itu sudah saat yang tepat untuk berangkat, jadi aku berjalan keluar rumah.


Cukup berjalan kaki singkat dari rumah ke sekolah.


“Hadano-kun!”


Cuaca hari ini cerah, aku berjalan santai ketika aku dihentikan oleh seseorang dari belakang.


Berbalik, aku melihat seorang siswa laki-laki yang agak gendut.


“Oh, Maegashira rupanya, selamat pagi.”


“Ya, selamat pagi. Kau baik-baik saja? Mereka bilang kau jatuh dari tangga tapi ....”


Namanya Maegashira Akito, teman sekelasku dan satu-satunya anak laki-laki di kelas selain aku.


Dia adalah teman laki-lakiku yang memiliki kepribadian agak sombong dan ia menghampiriku dengan ramah. 


“Guru bilang, kau terluka parah! Aku mau menjengukmu, tapi dia tidak mau memberi tahuku rumah sakit mana kau dirawat karena itu hanya akan mengganggumu! Cewek-cewek juga, seharusnya, mereka bisa memberitahuku!”


“Oh, maaf karena sudah membuatmu khawatir, tapi sekarang aku baik-baik saja.”


Mendengar kata-kataku, Maegashira sedikit memiringkan kepalanya, mungkin tak mengharapkan jawaban jujur dariku. 


Aku yang dulu... 


『Kau tak usah khawatir padaku, aku serius!』


Jawabku biasanya akan terkesan tsundere


“... Rasanya ada yang beda darimu?”


“Tidak, aku hanya tumbuh sedikit.


 

“Apa itu, kau jadi tambah keren..”


Maegashira menatapku dengan sedikit sombong.


“Adakah yang berubah selama aku tidak hadir?”


“Ummm, tidak ada yang khusus .... yang ada malah, para gadis-gadis menangis dan khawatir ketika mereka mendengar Hadano-kun jatuh dari tangga. Ya Tuhan! Dan itu cringe sekali!”


Sudah tidak mengagetkan lagi .... itu adalah reaksi umum di dunia ini ...