Masho no Otoko o Mezashimasu - Chapter 7 Bahasa Indonesia


Chapter 7 - Teman Sekelas


Saat jarak sekolah semakin dekat, semakin banyak cewek-cewek yang terlihat, dan sejauh ini aku belum melihat cowok-cowok selain Maegashira.


Saat kami berjalan melewati mereka, kami secara alami menarik perhatian mereka. Sepertinya Maegashira yang berjalan di sebelahku sedang dalam mood yang buruk, mungkin karena ia merasakannya juga. Itu bisa dilihat dari pipi tembemnya yang semakin tembem. Suara *punpun* mengungkapkan kekesalannya.


“Aku benar-benar tidak suka ini! Aku harap bisa makan lebih banyak makanan lezat setelah melihat tatapan tidak sopan itu! Punpun!” (TLN: Welp, bagian ini sulit) 


Aku tidak menyadarinya sebelumnya, tapi ternyata Maegashira mungkin anak yang menarik ... Aku tidak tahu siapa yang mempengaruhinya untuk memiliki kebiasaan membenci wanita. 


....Bukan aku, kan? Pikirku ketika kami berjalan masuk ke gedung sekolah sambil mendapatkan perhatian dari para siswi cewek. Dalam perjalanan menuju ruang kelas, kami dihentikan oleh suara yang indah.


“Hadano-kun.”


Orang yang mendekati kami adalah ketua komite atau teman sekelasku, Yuri Mishima. Dia adalah seorang gadis cantik seksi dengan rambut poni lurus dan rambut belakang ponytail. Apa yang paling mengesankan adalah di bawah mata almond-nya ada bekas tangisan. 


“Selamat pagi, ketua”


“E, ah, s-selamat pagi.”


“Hm? Ada apa?”


Dia kaget ketika aku mengucapkan selamat pagi, jadi aku bertanya ada apa. Maegashira yang berdiri sampingku, memotong pembicaraan kami, dengan nada heran.


“Tidak biasanya kau menanggapi sapaannya.”


Oh, benar, mungkin mereka mempertanyakan sikap lamaku.


“Sudah ku bilang kan, karena aku sudah tumbuh sedikit dewasa bukankah normal untuk menyapa?” jawabku. 


“Hadano-kun, aku akan menjadikan hari ini menjadi kenangan seumur hidupku!” kata ketua. 


Mungkin perubahanku hari ini membuatnya sangat senang, karena dia mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. 


“Ah, aku harap kamu tak terlalu khawatir soal itu karena aku akan melakukannya lagi besok ...” kataku sambil menatapnya dan tersenyum. 


Aku mencoba menguji seberapa efektif senyumku, dan kalau berhasil, aku berencana untuk terus menggunakannya di masa depan.


Senyum gratis nol yen. Meski mata uang di Aachenheim bukan yen sih ...


Kemudian ketua tersipu, berhenti bergerak, dan tertegun.


“.... Ketua?”


Ketika dia tidak bergerak, aku memanggilnya lagi, dan aliran darah merah mengalir dari hidungnya.


Rupanya, dia kehilangan ketenangannya yang membuat hidungnya mimisan.


Senyumanku terlalu efektif, sepertinya. 


Yang paling penting saat ini, aku harus memberinya tisu untuk menyumbat hidungnya.


Seorang gadis cantik dengan hidung kesumpel tisu ya .... agak gimana gitu lihatnya.


Orang yang aku maksud sedang berjalan tidak stabil, dan itu benar-benar berbahaya.


Di sisi lain, Maegashira benar-benar marah, bertanya-tanya mengapa aku bersikap baik kepada ketua.


Alasan kenapa Maegashira marah adalah sebuah misteri, tapi yang lebih misteri lagi adalah apa yang ketua ajak bicara denganku. Yah, kurasa itu bukan hal penting atau mungkin aku lupa.


Begitu kami bertiga memasuki ruang kelas, cewek-cewek yang melihat kehadiranku langsung menghampiri dan berkumpul di sekitar kami bersama-sama untuk menanyakan kesehatanku. 


“Hadano-kun, apa tubuhku sudah baik-baik saja?”


“Mou, kami semua sangat mengkhawatirkanmu, lho~!”


“Tapi kami senang kamu sudah tidak apa-apa.”


Sementara semua orang mengutarakan apa yang mereka pikirkan tentangku, ketua tampak menyesal, bergumam lirih, “seharusnya itu yang aku tanyakan tadi.....”.


“Terima kasih. Aku tahu kalian mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja kok.”


Untuk sesaat, kelas menjadi sunyi, sebelum tak lama kemudian meledak.


“Yeeeeeeeeaaahhhh! Aku, mendapat ucapan terima kasih dari Hadano-kun!”


“Ngomong apa kamu? Hadano-kun mengarahkannya padaku! Jangan sok ke-PD-an deh!”


“Matamu sudah rabun ya! Hadano-kun tadi menatapku saat mengatakannya!”


“.... Tidak, itu untukku, aku yakin sekali. Ramalan hari ini mengatakan ini adalah hari keberuntunganku.”


“Salah! Salah! Salah! Dia mengatakannya untukku!”


Mereka semua tidak ada yang mau mengalah dan saling mengklaim diri sendiri. 


Padahal aku mengatakan untuk mereka semua... 


“Hadano-kun, tinggalkan saja cewek-cewek bodoh ini dan ayo kita duduk.”


Maegashira, yang melihat pertengkaran gadis-gadis itu dengan penghinaan, mengajakku duduk. 


Tempat duduk kami berada di barisan belakang dekat jendela. Ini adalah hasil pertimbangan wali kelas untuk sedikit siswa laki-laki. Kursi di dekat kami berdua sangat populer, dan bahkan bernilai hingga 30.000 jenni, untuk ditukar dengan kursi lainnya. Memikirkan seorang siswa SMP akan membayar sebanyak ini untuk mendapatkan kursi membuatku merinding. Ngomong-ngomong, nilai mata uang Aachenheim, Jenni, bisa dianggap hampir sama dengan mata uang Yen. 


Saat aku mengeluarkan buku teks dari tas dan meletakkannya di meja, aku menyadari sesuatu yang aku lupakan.


“Ops.. ”


Maegashira yang memperhatikan kegelisahanku bertanya. 


“Ada masalah?”


“Aku lupa membeli makan siang...”


“Oh, kalau dipikir-pikir, makan siangmu selalu berupa roti dari toserba ya kan.”


“Ugh, aku tidak punya pilihan selain membelinya di kantin hari ini ...”


“Kau akan sulit untuk membeli makan siang di kantin karena penuh dengan siswa, kau tahu.”


Sekolah ini tidak menyediakan makan siang, dan tentunya tidak ada tempat makan, sehingga siswa yang tidak membawa bekal sendiri harus membeli roti dari kantin. Dan anehnya, roti mereka lebih murah dan lebih enak daripada roti toserba, sehingga pembelian waktu makan siang mereka selalu dipenuhi orang.


“Haah! Nggak jadi deh!”


Aku berteriak, dan duduk di atas meja.


Dan ketika kelas pagi berakhir dan bel berbunyi untuk dimulainya istirahat makan siang, cewek-cewek di kelas itu langsung meninggalkan kelas seolah-olah mereka sedang berlomba.


 Aku bertanya-tanya bukankah mereka terlalu buru-buru?

ToC - Prev/Next