Yatara to Sasshi no ii Ore wa, Dokuzetsu Kudere Bishoujo no Chiisana dere mo Minogasazu ni Guigui iku Bagian 1 Chapter 2 Bahasa Indonesia


Gadis Berlidah Tajam Tidak Masalah Buatku

Keesokan harinya saat waktunya makan siang.

Saat ia berjalan menyusuri lorong sekolah, seseorang yang tidak terduga berdiri di depannya.

“Kamu pasti Naoya Sasahara, kan? Terima kasih untuk kemarin.”

Rambutnya yang tergerai sampai ke pinggangnya, berwarna perak. Matanya yang berkilau bak permata, berwarna biru laut.

Wajahnya terdefinisi dengan sangat baik sehingga orang akan setuju bahwa ia bak manusia buatan CG yang dibentuk dengan sempurna. Kulitnya putih bersih dan suaranya sejelas gemerincing lonceng yang keluar dari bibir kecilnya.

Akan tetapi, tatapan yang ia berikan pada Naoya sangatlah tajam.

Tubuhnya yang mungil penuh dengan energi pembunuh, dan pose menakutkan yang berdiri dengan tangan disilangkan di depannya tampak persis seperti patung Kongo Rikishi.

Berkat ini, siswa lain yang memenuhi koridor mulai berisik.

Begitu juga murid laki-laki yang bersamanya, Tatsumi Kawano, menatap heran dan berbisik pada Naoya.

“Hei, hei, Naoya, apa kau ........ ada masalah dengan si Putri Salju Beracun?”

“Hm ya. Kemarin.”

Naoya mengangguk.

Ia tak sempat melihat wajahnya saat itu, tetapi dengan rambut peraknya yang panjang, ia tahu itu mungkin itu dia.

(Tapi, aku hanya tak mengharapkan dia menemuiku kembali seperti ini.) 

Namanya adalah Sayuki Shirogane.

Seperti Naoya, dia adalah siswa kelas dua di sekolah Ootsuki.

Reputasinya karena sosok yang menarik, otak cerdas, serta jago olah raga telah didengar oleh siswa kelas lain, termasuk Naoya.

Tapi, bukan hanya pujian yang tersebar luas, reputasi buruknya juga menyertai.

Di depan Naoya yang berdiri diam, Sayuki memberitahunya dengan acuh tak acuh.

“Terima kasih banyak untuk yang kemarin, saat itu aku tak sempat mengucapkannya, jadi aku berusaha keras untuk mencarimu. Melihat seragam yang kamu pakai, kupikir kamu dari sekolah yang sama denganku.”

“Kau tidak perlu berterima kasih padaku.”

“Aku tidak bisa melakukan itu.”

Sayuki berubah memelototi Naoya dan menyisir rambut panjangnya.

“Aku cuma tak mau disebut orang yang tak tahu terima kasih. Kalau tidak, mana mungkin aku akan repot-repot bicara dengan cowok biasa-biasa aja, A macam kamu.”

“Ooo”

Satu-satunya kekurangan Sayuki Shirogane, seorang gadis cantik sempurna. 

Yaitu, lidah beracunnya. (Cewek kang toxic) 

Tak sedikitnya siswa laki-laki yang pernah dibuatnya pingsan akibat serangan verbal tajamnya setahun lebih sejak hari pertamanya masuk sekolah. 

Alhasil, ia mendapat julukan "Putri Salju Beracun".

“Jadi ini hari yang merepotkan bagimu ya, Putri Salju Beracun...”

“Hei .... ada hal lagi yang mau aku sampaikan padamu.”

Siswa-siswa yang memenuhi lorong mengangkat alis mereka dan berbisik satu sama lain.

Tak peduli sekitar, Sayuki melanjutkan dengan tatapan yang lebih tajam di matanya.

“Kemarin memang agak membuatku takut ... tapi tanpamu saja, aku bisa menanganinya sendiri. Dan jangan sok-sokan jadi pahlawan deh. Aku tidak mau punya hutang budi denganmu.”

“Ouh, wokeh.”

Naoya mengangguk patuh.

Aku mengerti apa yang coba dia katakan ——hhm, mungkin begini.

“Jadi kau mau mengajakku keluar setelah sekolah karena kau ingin berterima kasih padaku, kann?”

“..... Eh apa?”

『…………Lah?』

Tidak hanya Sayuki, tetapi siswa-siswa di sekitarnya juga membelalakan mata mereka.

Kebanyakan dari mereka menyuarakan 'Ngomong apa sih ini orang?”.

Tapi yang benar saja, kondisi Sayuki menjadi aneh. Dalam sekejap, telinganya memerah dan gaya bicaranya menjadi berubah. 

“A-... apa yang kamu bilang sih? Bagaimana kamu bisa sampai pada kesimpulan itu setelah mendengar semua kata-kataku!”

“Ya, habis kau mudah ditebak.”

Naoya tidak punya pilihan selain memberitahunya dengan sederhana.

“Bagian ‘membuatku takut’ itu benar. Sisanya kebanyakan omong kosong.”

“....!”

“Dan memang benar 'Aku tidak mau punya hutang budi denganmu', tapi ini ada sedikit rasa penyesalan di dalamnya, karena sebenarnya kau mau bilang 'aku ingin membalas budi'.”

Dan waktu pun mengalir sampai istirahat makan siang hampir selesai.

Jika Sayuki benar-benar ingin membalas budi padanya, satu-satunya waktu yang dia miliki adalah sepulang sekolah.

Sampai kini, siapapun bisa paham sekali gaya bicara, sikap, dan suasana Sayuki.

Sayuki kehilangan kata-kata dengan mulut menganga, saat Naoya mengatakan semuanya secara blak-blakan.

“Hari ini aku tidak ada kerjaan. Aku tidak punya kegiatan klub dan aku juga bebas setelah sekolah. Jadi bagaimana menurutmu, Shirogane?”

“S-sudah aku bilang aku ... uu ... uhh ...!”

Sayuki gemetar dan menunduk ke bawah.

Menunggu beberapa saat, ia berbisik sangat lirih.

“Itu, kalau kamu mau .... aku akan menunggumu... jadi, kamu tahu, aku ...”

“Yup. Baiklah, aku akan menemuimu sepulang sekolah di gerbang depan. Oke.”

“Bagaimana kamu bisa mendengarku dengan benar? Di situlah biasanya teori bahwa kamu tidak mendengarnya dan mendengarnya balik!”

“Bagaimana ya, aku belum pernah gagal dalam tes pendengaran sejak aku lahir, kau tahu.”

“Guuuuu ...! K-kamu....! ”

“Apa?”

“Sasahara-kun ... kamu anaknya terlalu sehaatttttttt!!!!”

Meninggalkan kalimat yang hanya bisa dianggap pujian, Sayuki lari dengan wajah merah cerah.

“.... Ini mengejutkan dari seorang yang disebut Shirogane-san...”

“Ya...”

“Tenyata dia punya sisi imut ya.. ”

Orang-orang di lorong memberikan pandangan hangat mereka ke arah ke mana ia menghilang.

Sementara itu, temannya yang daritadi berdiri di sebelahnya menepuk pundaknya—untuk mengatakannya dengan tercengang, bersama ekspresi berseri di wajahnya.

“Keterampilan membaca pikiranmu masih hebat seperti biasanya ya...”

“Siapapun juga bisa melakukan ini, bukan?”

Naoya hanya memiringkan kepalanya dengan lugu.

Dan kisah seorang anak laki-laki cerdik yang terus memenangkan kemenangan penuh atas gadis kudere yang berbisa pun dimulai....