Yatara to Sasshi no ii Ore wa, Dokuzetsu Kudere Bishoujo no Chiisana dere mo Minogasazu ni Guigui iku Bagian 1 Chapter 3 Bahasa Indonesia


Kencan Sepulang Sekolah

Saat ia menuju gerbang depan sepulang sekolah hari itu, Sayuki sudah menunggunya.

Berdiri di sana dengan tangan disilangkan di tengah-tengah kerumunan siswa yang sedang dalam perjalanan pulang, ia terlihat sangat mencolok. Naoya pun langsung menuju ke sana.

“Maaf, aku membuatmu menunggumu.”

“Hmph, aku tak peduli. Sudah kubilang kan, aku tak mau punya hutang apapun padamu.”

Wajahnya kini terlihat santai. 

Sepertinya kemerahan yang tadi sudah hilang. 

Dan ia dengan tegas mengacungkan jari telunjuknya pada Naoya. 

Sorotan matanya beralih menjadi mata singa yang sedang melototi mangsanya. Mengeluarkan aura membunuh yang hanya ditujukan untuk Naoya.

“Seperti yang kamu bilang saat waktu makan siang, memang aku ingin membalas budi. Tidak lebih.”

“Heee. Itu tidak mungkin.”

Naoya mengangkat bahunya, mengabaikan intimidasinya.

“Aku akan pergi kencan dengan gadis imut ini. Aneh kalau aku tidak bersemangat. ”

“Kah... ah...!?”

Wajah Sayuki kembali memerah seperti gurita rebus.

Namun kali ini ia tak tinggal diam. Meskipun gemetar, ia berbalik untuk menenangkan diri. Menarik napas sebentar lalu kembali menghadap dan mulai berbicara. 

“Fuu~ itu tidak ada gunanya. Aku tidak akan tertangkap dua kali. Lagian itu tidak terlalu berharga buatku.”

“Hee. Tapi bukankah kau terlihat sangat bahagia?”

“Itu cuma imajinasimu! Jangan bicara lagi sampai kita tiba di toko! Ngerti!?”

“Kencan itu sulit ya.”

“Ini bukan kencan! Diam dan ikuti aku!”

Naoya dengan patuh mengikuti Sayuki yang mulai berjalan dengan gusar.

Para siswa di sekitarnya memperhatikan mereka dengan tatapan hangat. Sudah menjadi rumor di seluruh sekolah bahwa Putri Salju Beracun telah mengajak siswa laki-laki kelas A berkencan.

Sekolah mereka, Otsuki, terletak di pusat kota.

Berkat ini, ada banyak deretan toko-toko murah di sekitar di mana siswa bisa mampir, dan Sayuki berjalan langsung ke salah satunya, toko donat.

Naoya tidak keberatan juga, jadi ia mengikutinya dan memesan satu set donat dan kopi. Duduk di depan meja dua sisi, ia menghadap Sayuki secara langsung.

“....”

Sayuki terus menatap donat tersebut dan tidak membuat gerakan sedikitpun. Jelas ia terlihat gugup. 

“Ah, boleh aku makan dulu?”

“……”

Sayuki mengangguk dalam diam.

Sekarang setelah ia sudah diberi izin, tanpa ragu Naoya memakan donatnya. Lezatnya kue itu menyengat tubuhnya yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Saat ia benar-benar menikmati rasanya――.

“Ano...”

“Un?”

“Kamu ini, terlalu peka, bukan?”

Sayuki melihat sekilas ke arahnya untuk memastikan. 

“Aku pikir .... kamu tahu persis apa maksud di balik yang aku ucapkan.”

“Ya, tentu saja aku bisa melihatnya.”

Naoya menghabiskan donatnya dan menyeka gula di jari-jarinya dengan serbet kertas.

“Tapi aku ingin kamu mengatakannya dari mulutmu sendiri. Jadi aku menunggu.” tambah Naoya. 

“Kamu tahu sampai sebanyak itu... Apa kamu ahli dalam membaca pikiran?”

“Ini bukan hal yang harus dibanggakan, aku hanya sedikit perseptif.”

“'Hanya', kamu bilang ... ya mungkin kamu benar.”

Alis Sayuki berkerut, seolah ia tidak puas dengan jawabannya ... tapi setelah beberapa saat, dia menghela nafas kecil. Menundukkan kepalanya sambil tersenyum. 

“Kemarin, jujur... terima kasih banyak. Aku merasa tertolong.”

“Ya, sama-sama.”

Naoya menerima ucapan terima kasihnya yang jujur ​​dengan mudah.



SebelumnyaDaftar IsiSelanjutnya